google-site-verification: googlec6be98f9f3e9dde4.html Kampung Karanganyar: WISATA
Tampilkan postingan dengan label WISATA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WISATA. Tampilkan semua postingan

Museum Purbakala Dayu

Museum Purbakala Dayu terletak di Desa Dayu, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar dengan luas lahan ± 10.500 m2. Kluster Dayu merupakan bagian dari Museum Manusia Purba Sangiran yang terlatak di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, yang dikelola oleh Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran. 

Museum Dayu dibangun dengan dana APBN pada tahun 2013 dengan gaya modern, Diresmikan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia Prof. Dr. Boediono pada tanggal 19 Oktober 2014. Dengan Nama Museum Manusia Purba Sangiran Kluster Dayu yang disingkat dengan nama Museum Dayu. Sejarah berdirinya Museum Dayu tidak lepas dari Museum Manusia Purba Sangiran. Pada tahun 1977 dibangun sebuah museum di Desa Dayu yang berfungsi untuk menampung hasil penemuan dikawasan Cagar Budaya Sangiran yang ada disebelah selatan. Pada tahun 1983 dibangun Museum Manusia Purba Sangiran semua penemuan yang ada di Dayu dibawa semua ke Sangiran, dan museum dimanfaatkan sebagai Balai Desa Dayu. Karena masih banyak penemuan fosil di daerah Dayu maka kemudian dibangun Museum Dayu lagi.

Lahan yang dugunakan untuk mendirikan museum dipilih khusus dan dirancang untuk memberi contoh lapisan tanah yang ada dari empat zaman dimulai dari tahun 1000 sampai dengan 1,8 tahun silam. Bentuk museum lebih menyerupai villa berbeda dengan museum pada umumnya karena kantur tanah yang berbeda ketinggian dan berundak.

Di Museum Dayu ada tiga ruang display yaitu ruang shelter atau anjungan, ruang diorama dan ruang pamer. Ruang shelter dibagi menjadi tiga yaitu shelter Notopuro, shelter Kabuh dan shelter Grezbank. Shelter Notopuro menyimpan koleksi fosil tulang paha elephantidae, Shelter Kabuh menyimpan koleksi fosil tengkorak Banteng Bibos Paleosondaicus, Di Shelter Grezbank terdapat koleksi gading gajah. Ruang Diorama berisi aktivitas perburuan yang dilakukan manusia purba, tedapat ruang pamer yang memamerkan fosil tengkorak manusia purba, rangka banteng purba dan profil peneliti yang melakukan penelitian tentang zaman purba. Diruang Pamer menyimpan koleksi fosil binatang purba seperti tulang pinggul, tulang belakang, tulang rawan, tulamg ekor dan lain-lain.

Dari hasil temuan batu dan fosil menceritakan tentang kehidupan manusia, flora, fauna dan iklim sejak zaman purba. Di Musium Dayu kita dapat melihat dan mempelajari jejak kehidupan manusia purba melalui struktur dan lapisan tanah yang ada sejak berjuta tahun silam. Selain itu kita juga dapat mendapatkan informasi tentang kehidupan manusia purba di Pulau Jawa yang dapat memberikan sumbangan ilmu di bidang antropologi, arkeologi, geologi, paleontropologi dan lain-lain.

Fasilitas yang ada di museun diantaranya mushola, toilet, penginapan, tempat bermain untuk anak-anak, tempat parkir dan masih ada yang lainnya. Pengunjung akan dikenakan tiket masuk sebesar lima ribu rupiah. Pengunjung yang akan menuju museum dapat mengambil jalur Solo-Purwodadi sampai Pasar Gondangrejo, karena tidak ada kendaraan umum menuju lokasi pengunjung dapat melanjutkan perjalanan dengan naik ojek.

Cembengan Pabrik Gula Tasikmadu

Cembengan tradisi turun-temurun sebagai tanda dimulainya musim giling tebu di pabrik Gula. Ritual ini bertujuan agar pelaksanaan proses giling tebu dapat berjalan dengan lancar dan selamat sehingga  target produksi dapat tercapai. Tradisi Cembengan berasal dari  tradisi kebudayaan Tionghoa yang bernama Cing Bing, yang artinya ziarah kubur kemakam leluhur sebelum melakukan pekerjaan besar, Tradisi ini juga diikuti oleh warga lokal yang bekerja di pabrik gula. Hampir semua pabrik peninggalan Belanda melakukan tradisi cenbengan terutama yang berada di Jawa.

Tradisi Cembengan dilaksanakan selama 2 hari, Hari pertama arak-arakan berbagai macam sesaji.  Sesaji utama dalam ritual ini adalah berupa 7 kepala kerbau, Selain sesaji 7 kepala kerbau ada juga sesaji hasil bumi, nasi tumpeng, berbagai jenis bubur, gagar mayang atau bunga tebu, joli yang terbuat dari bambu dengan hiasan kertas hias, kembang telon berupa kembang tiga rupa. Sesaji ini setelah diarak dan dilakukan pembacaan doa kemudian sesaji diletakkan didalam pabrik di dekat mesin giling tebu.  Menggunakan 7 kepala kerbau karena proses penggilingan tebu sampai dengan menjadi gula melalui 7 tahapan mulai dari stasiun giling sampai menjadi gula.

Hari kedua merupakan puncak dari upacara cembengan, dengan adanya upacara arak-arakan sepasang temanten tebu. Temanten tebu diambil dari kebun tebu yang berbeda dan merupakan tebu terbaik. Sepasang tebu ini didandani seperti pengantin laki-laki dan perempuan. Sepasang temanten tebu duduk berdampingan diatas kereta kuda dan dibelakang ada 22 pasukan yang membawa tongkat sebagai pengiring. Tongkat yang dibawa merupakan tebu-tebu dari hasil panen petani yang memiliki kualitas bagus. Sampai didepan Pabrik Gula Tasikmadu arak-arakan temanten tebu disambut oleh kesenian reog.

Kirap tebu manten menandai proses giling tebu dimulai dengan menyalanya mesin giling tebu dan menggiling sepasang tebu pengantin. Musim giling tebu dimulai bulan april dan berakhir pada bulan oktober. 

Upacara Adat Pasar Kumandang

Upacara Adat Pasar Kumandang adalah kegiatan doa bersama yang dilakukan oleh para pedagang pasar tradisional pada bulan sura dan dilakukan turun-temurun. Upacara adat ini dilaksanakan pada hari minggu paing pada sore hari. Upacara ini biasanya dilaksanakan di tempat wisata atau pasar tradisional, dan semua pedagang berhenti dari kegiatan berdagangnya.

Pedagang datang ketempat acara dengan membawa uba rampe berupa sesaji yang akan digunakan untuk upacara dan membawa barang dagangan mereka untuk diberikan kepada pengunjung yang datang sebagai sedekah. Acara diawali dengan Kirab Gunungan yang berupa hasil bumi seperti palawija, sayuran, buah-buahan, pala gumantung, pala kependem, bunga yang diarak menuju tempat ritual. Upacara ini diikuti oleh pedagang dari berbagai pasar yang ada di Kabupaten Karanganyar dan sekitarnya. Kirap Gunungan di ikuti oleh para pedagang pasar, pedagang kaki lima, pedagang asongan, souvenir pedagang bbs (buah, bunga, sayur), PHRI, Perdabita dan masyarakat. Kirap Gunungan dimeriahkan dengan kesenian daerah setempat seperti kesenian lesung, kesenian tek-tek atau bambu, reog dan lain-lain.

Setelah dilakukan doa bersama Gunungan yang berupa hasil bumi kemudian dibagikan kepada pengunjung dan para pedagang akan menerima Barikan. Pengunjung yang mendapatkan Gunungan dipercaya akan membawa berkah. Barikan berupa bungkusan kain putih berbentuk kantong yang berisi abon-abon, yang berupa beras kuning, kacang hijau, empon-empon dan kaca rias kecil yang dipercaya dapat menolak makhluk halus yang ingin mengganggu. Biasanya disimpan di tempat penyimpanan uang atau di tempat tertentu.

Tujuan dilakukan Upacara ini untuk para pedagang mendapatkan kemudahan dalam menjajakan dagangannya dan mendapatkan perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa dari gangguan makhluk halus atau sesuatu yang tidak kasat mata, Memohon keselamatan agar dijauhkan dari berbagai macam bahaya dan dimudahkan dalam mencari rejeki. Untuk menjalin kerjasama, kerukunan dan gotong royong antar pedagang. Upacaa adat ini juga untuk mempertahankan keberadaan pasar tradisional agar tidak kalah bersaing dengan pasar modern dan keberadaan pasar tradisional tidak tergusur oleh pasar modern.






Kebun Teh Kemuning

Kebun Teh Kemuning terletak di lereng Gunung Lawu sehingga mempunyai udara yang sejuk karena berada di ketinggian antara 800 sampai 1.540 meter di atas permukaan laut dengan suhu rata-rata 21,5 derajat celcius. Kebun Teh Kemuning merupakan Perkebunan Peninggalan Zaman Belanda dan masih beroprasi sampai sekarang. Wisatawan yang datang akan di suguhi dengan hamparan pemandangan kebun teh yang hijau di lereng gunung yang berbukit-bukit dengan udara yang segar, wisatawan juga bisa berjalan-jalan mengelilingi kebun teh. Perkebunan Teh Kemuning yang mempunyai kemiripan dengan perkebunan teh yang berada di kawasan puncak Bogor.  
Kebun Teh Kemuning terletak di Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Kecamatan Karanganyar yang mempunyai luas lahan 437 hektar dengan lahan yang aktif untuk produksi seluas 329 hektar, sedangkan sisanya digunakan untuk lahan pembibitan, pabrik pengolahan teh, dan untuk rumah dinas. Kebun Teh Kemuning dapat menghasilkan daun teh basah 8 sampai 15 ton sehari. Wisatawan apabila ingin melihat para pekerja melakukan aktivitas memetik teh dapat datang pagi hari sampai menjelang siang.

Kebun Teh Kemuning buka setiap hari dari jam 07.00 Wib s/d jam 17.00 Wib, dan tidak ada tiket masuk. Akses jalan menuju Kebun Teh Kemuning sudah baik, walaupun jalannya berkelok-kelok tetapi mudah untuk di lewati para wisatawan baik menggunakan kendaraan roda dua, roda empat ataupun bus. 


Srawung Seni Candi

Srawung Seni Candi adalah doa raya yang dikemas dalam bentuk pentas seni dan diskusi di akhiri dengan pembagia bibit tanaman. Srawung Seni Candi ingin mengangkat nilai-nilai luhur dari Candi Sukuh, Kebudayaan masyarakat sekitar Candi dan untuk pelestarian alam sekitar Lereng Lawu dan untuk menghidupkan Candi Sukuh agar dapat menarik wisatawan, agar Candi Sukuh dapat dikenal oleh masyarakat luas. Srawung Seni Candi diselenggaraan setahun sekali setiap akhir tahun.

Srawung Seni Candi ingin menghidupkan kembali Candi sebagai pusaka dan pustaka bangsa. Sebuag Bangunan Candi diharapkan mampu memberikan kisahnya, nilai-nilai yang terkandung didalannya sebagai inspirasi bagi generasi sekarang dan yang akan datang dalam bentuk nilai-nilai hidup dan karya. Srawung Seni Candi diharapkan mampu menyumbang untuk pelestarian kesenian dan budaya di Indonesia. 

Candi Sukuh dipilih untuk pementasan Srawung Seni Candi karena keindahan bentuk bangunan Candi, mempunyai ruang terbuka yang luas dan tempat-tempat yang berbentu panggung dengan hiasan bebatuan yang sangat artistik sebagai latar belakang pertunjukan. Candi Sukuh juga menghadirkan banyak inspirasi dari relief dan kisah-kisah yang terdapat di bangunan candi. Udara yang dingin dan berkabut dengan hujan yang kadang turun dan keheningan alam  pegunungan merupakan unsur yang memperkuat penampilan para senimam. Unsur-unsur alam merupakan bagian yang penting untuk menciptakan suasana pertunjukan dan memberikan roh disetiap pertunjukan. Bagian bangunan candi tidak hanya digunakan sebagai latar belakang saja tetapi ada interaksi antara seniman dengan bangunan candi. Candi Sukuh tidak hanya berupa bagunan yang pasif tapi seolah-olah ikut dalam setiap pertunjukan, Sehingga penonton tidak memandang bangunan Candi sukuh hanya sebuah bebatuan bersejarah. 

Srawung Seni Candi merupakan acara tahunan yang digelar oleh seniman lokal Karanganyar bekerja sama dengan budayawan, seniman dari dalam negeri dan luar negeri dan juga dengan berbagai instansi. 

Mahesa Lawung

Upacara Mahesa Lawung di laksanakan di Alas Krendhowahono yang terletak di Kecamatan Gondangrejo. Upacara Mahesa Lawung dilaksanakan setahun sekali pada bulan Rabiul Akhir tepatnya pada hari ke 40 setelah acara Grebeg Maulud, pelaksanaannya selalu jatuh pada hari selasa atau kamis di akhir bulan. Upacara Mahesa Lawung dilakukan untuk menghormati Bhatari Kalayuwati atau Bhatari Durga yang diyakini menjadi menjaga gaib Keraton Surakarta yang berada disebelah utara. Sebelah selatan dijaga Nyi RoroKidul, Sebelah timur Kanjeng Sunan Lawu yang bersemayam di Gunung Lawu, Sebelah Barat Kanjeng Ratu Sekar Kedaton, Kyai Sapu Jagad dan Kyai Sapu Regol bersemayam di Gunung Merapi. 

Prosesi Upacara Mahesa Lawung di mulai dari Keraton Surakarta, Prosesi di mulai dari Dalem Gondorasan,  disini semua sesaji yang berupa makanan,  hasil bumi, kembang tujuh rupa, jajanan pasar, aneka serangga, binatang melata dan binatang berbisa yang sering disebut sebagai sesaji Kutu-kutu Walang Atogo, kelapa muda serta kepala kerbo untuk upacara di persiapkan. Iring-iringan sesaji yang dibawa abdi dalem di bawa menuju Sasono Sewoko untuk melakukan prosesi nyuwun palilah kepada penguasa Keraton Surakarta kemudian sesaji dibawa menuju Siti Hinggil untuk didoakan, setelah selesai didoakan sesaji dibawa menuju Alas Krendhowahono.

Ratusan Abdi Dalem dan Sentono Dalem memakai busana nyaris sama memakai pakaian beskap jangkep lengkap. Atasan beskap, memakai kain jarik sebagai bawahan, blangkon sebagai penutup kepala, memakai kalung samer keemasan dengan plisir berwarna merah dan memakia kerins dibelakang pinggal, tetapi tidak memakai alas kaki bertujuan untuk menghormati tanak sakral ini. Sentono Dalem memakai beskap putih sedangkan Abdi Dalem memakai beskap hitam.

Sesampainya di tengah hutan sesaji diletakkan dipuncak punden yang berada di bawah pohon beringin besar, sesaji yang utama adalah potongan kepala kerbau yang dibungkus dengan kain kafan.
Inti dari Upacara Mahesa Lawung adalah dikuburnya kepala kerbau di dekat punden setelah acara selesai tetapi bukan hanya kepala kerbau saja yang dikubur kaki dan jeroannya juga. Dan sesaji yang lainnya dibagi-bagikan kepada para peserta upacara.

Tidak sembarang kerbau bisa digunakan dalam ritual sakral ini. Kerbau yang digunakan harus kerbau jantan yang belum pernah kawin dan belum pernah dipekerjakan. Pemilihan kepala kerbau sebagai inti dari acara ini karena kerbau adalah lambang dari kebodohan, dengan mengubur kepala kerbau diharapkan dapat memberantas kebodohan. Selain menjadi simbol untuk meberantas kebodohan juga simbol memberantas sifat-sifat buruk yang ada pada diri manusia, seperti sifat yang dimiliki kerbau sebagai hewan pemalas dan acuh tak acuh pada lingkungan sekitarnya. Diharapkan dengan diadakan upacara ini dapat terciptanya keharmonisan kehidupan manusia dan alam semesta. Dalam Bahasa Jawa kerbau bujang mempunya sebutan atau istilah Joko Umbaran.

Upacara Mahesa Lawung digelar selain untuk simbol memberantas kebodohan juga untuk memperingati perpindaha Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dari Kartosura ke Solo. Menurut cerita Alas Krendhowahono merupakan tempat yang digunakan Raja-Raja Mataram untuk menyepi dan bersemedi guna mendapatkan petunjuk atau wangsit. 

Astana Mangadeg

Astana Mangadeg merupakan komplek pemakaman para penguasa Istana Manggunegaran, yang menjadi salah satu pecahan dari Kerajaan Mataram. Astana Mangadeg berada di ketinggian 750 di atas permukaan laut terletak diperbukitan Gunung Lawu, tepatnya di Desa Karang Bangun Kecamatan Matesih Kabupaten Karanganyar. 

Raja Mangkunegaran yang dimakamkan di sana adalah Raja Mangkunegara I yang bernama Kanjeng Pangeran Adi Pati Arya Sri Mangkunegara I, terkenal dengan nama Raden Mas Said atau Pangeran Samber Nyawa yang memiliki kesaktian yang luar biasa dan gigih melawan penjajah Belanda. Yang diakhiri dengan perdamaian dengan perjanjian Salatiga pada tanggal 17 Maret Tahun 1957.

Perjalanan menuju Astama Mangadeg terasa menyegarkan karena lebatnya daun dan pepohonan yang besar dan suara kicauan burung yang akan menemani pengunjung. Gemericik air terdengar sampai kepuncak pukit, sejauh mata memandang lerlihat hamparan bukit yang hijau dikelilingi hamparan persawahan penduduk yang terlihat ijo royo-royo.

Ditengah perjalanan pengunjung akan mendapati sebuah tugu sebagai penanda Makam Astana Mangadeg. Yang letaknya ditengah-tengah antara kantor pengelola dan puncak. Disebelah tugu ada ruang yang biasa digunakan untuk bertapa, dan dibelakangnya terdapat jalan masuk menuju Astana Mangadeg.

Sebelum masuk pengunjung diwajibkan untuk meninta izin kepada pihak pengelola. Surat izin itu yang akan digunakan untuk masuk ke komplek Makam. Tidak ada tiket masuk tetapi ada kota amal yang dapat digunakan pengunjung untuk beramal. Pengunjung diwajibkan berbusana rapi dan untuk wanita memakai jarik. Ada laranga bagi pengunjung mengambil gambar/foto di komplek makam.

Makam Pangeran Samber Nyawa terletak di tengah sebelah kiri berselimut kain putih diruang terpisah, di sebelah kirinya makam istri-istrinya. Makam Pangeran Mangkunegara II terletak di sebelah wetan sedangkan Makam Pangeran Mangkunegara III terletak di sebelah kulon. Jika diperhatikan sekitar makam utama ada makam yang di golongkan menurut mangkat, kedekatan dengan keluarga keraton sampai dengan abdi dalem.

Di tempat inilah beliau merumuskan doktrin perjuangan yang di sebut Tri Darma yang berisi:

  1. Rumangsa Melu Handarbeni (Merasa Ikut Memiliki)
  2. Wajib Melu Hangrungkepi (Wajib Ikut Mempertahankan)
  3. Mulat Sariro Hangrasa Wani (Berani Bermawas Diri)

Taman Hutan Raya K.G.P.A.A Mangkunagoro I

Taman Hutan Raya atau yang sering disebut Tahura merupaka kawasan pelestarian alam untuk penunjang pendidikan dan pariwisata. Tahura terletak di Dusun Sukuh Desa Berjo Kecamatan Ngargoyoso tepatnya di kaki Gunung Lawu dengan ketinggian ± 1.200 m dpl. Merupakan satu-satunya taman hutan raya di Provinsi Jawa Tengah. Tahura dikelola oleh Balai Penelitian Tumbuhan dan Pengelolaan Taman Hutan Raya (BPTP Tahura), yang merupakan Unit Pelaksana Teknis Daerah Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Tengah. 

Di Tahura terdapat berbagai jenis flora terdiri dari berbagai jenis vegetasi endemik dan fauna yang sebagian merupakan fauna langka yang berjumlah sekitar 34 binatang. Keanekaragaman flora dan fauna dapat dikembangkan sebagai media pendidikan dan penelitian juga dapat di gunakan sebagai gudang ilmu pengetahuan. 

Tahura sebagai tempat wisata memiliki fasilitas yang memadai seperti area parkir yang luas, mck, mushola, juga tersedia villa bagi pengunjung yang ingin menginap. Terdapat arena bermain yang cukup luas cocok untuk rekreasi bersama keluarga. Wisata yang di tawarkan di Tahura seperti wisata alam, wisata satwa, wisata menanam, wisata berkuda, camping ground, outbond, wisata snapshoot, wisata memanah dan wisata religi. Terdapat juga jalur pendakian menuju ke puncak lawu. 

Di dalam kawasan Tahura terdapat Situs Cemoro Bulus dan Sendang Raja yang merupakan peninggalan zaman dulu. Situs Cemoro Bulus adalah sebuah Arca Kura-Kura yang masih ada kaitannya dengan Candi Suuh. Dalam mitologi Hindhu Arca Kura-Kura melambangkan Bhur Loka atau Alam Bawah yaitu Dasar Gunung Mahameru. Ada juga yang mengatakan Situs Cemoro Bulus merupakan portal gaib menuju puncak lawu. Sendang Raja adalah sumber mata air peninggalan zaman dulu yang ditemukan oleh Pengelola Tahura. 


Taman Balekambang

Taman Balekambang yang berlokasi di Jl. Balaikambang Kalisoro Kecamatan Tawangmangu, sebenarnya sudah ada sejak dulu karena wahananya kurang menarik sehingga kurang diminati. Oleh karena itu pengelola mengubah taman agar lebih menarik dengan konsep yang baru. Sekarang Taman Balekambang terkenal dengan nama Taman Miniatur Ikon Dunia dengan megusung konsep 1001 selfi. Di Taman Balekambang terdapat miniatur ikon wisata dari berbaga negara di dunia yang terkenal diantaranya Candi Borobudur dari Indonesia, Patung Spink dari Mesir, Patung Singa lambang Negara Singapura, Colosseum dan Menara Piza dari Italia, Tembok Besar China, Gunung Fuji Jepang, Menara Eifel dan Monumen Arc De Triomphe dari Perancis, Bukit Hollywood Amerika. Setiap ikon dibuat mini agar pengunjung dapat merasakan sensasi keliling dunia.

Selain itu ada juga permainan fliying fox, paint ball, high rope, water bridge. Pengelola juga menyediaan kendaraan outdor yang dapat digunakan untuk berkeliling seperti sepeda lipat, ATV dan skuter.

Setelah lelah berkeliling pengunjung dapat beristirahat disekitar air terjun dan sungai buatan. Aliran sungai terlihat seperti alami karena dikelilingi oleh rerumputan dan pepohonan. Bila kita berkunjung ke Taman Balekambang pejunjung tidak akan merasa bosan karena pengelola menambahkan ikon baru dalam beberapa bulan. 




Waduk Delingan

Waduk Delingan atau Waduk Tertomarto adalah sebuah danau buatan yang sudah ada pada zaman penjajahan Belanda, sekarang Waduk Delingan berada di bawah kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo. Waduk Delingan terletak di jalan Raya Karanganyar - Mojogedang Km 5 tepatnya di Desa Delingan Kecamatan Karanganyar. Waduk Delingan di bangun pada tahun 1923 memiliki luas 185 hektare dan sudah mengalami beberapa kali pemugaran. Waduk ini dibangun untuk irigasi bagi pertanian di daerah Delingan dan sekitarnya.


Waktu yang tepat untuk berkunjung adalalah dipagi hari karena pengunjung dapat menyaksikan sunrise yang indah. Jika cuaca cerah pengunjung dapat melihat refleksi matahari terbit yang dipantulkan secara sempurna oleh Waduk Delingan, karena waduk yang terletak di tengah-tengah perbukitan dan persawahan maka pengunjung  juga dapat melihat hutan yang lebat, persawahan yang luas dan Gunung Lawu yang menjadi latar dibelakangnya. Gunung Lawu dapat terlihat dengan jelas bila kita duduk di pinggir waduk dan menghadap ketimur, Gunung Lawu terlihat jelas berada di tengah-tengah waduk. Untuk bisa melihat air waduk pengunjug harus menaiki anak tangga terlebih dahulu. Bila datang di pagi hari kita juga dapat lari pagi atau berjalan-jalan  di sepanjang pinggir waduk dan menghirup udara yang segar.

Fasilitas yang terdapat di Waduk Delingan diantaranya tempat parkir yang luas, mushola, kamar mandi, bungalo yang terdapat di pinggir waduk, warung makan. 


Situs Watu Kandang

Situs Watu Kandang terletak di Dukuh Ngasinan Lor,  Desa Karangbangun, Kecamatan Matesih. Terletak di sekitar persawahan di tepi jalan raya Mangadeg Tawangmangu. Situs Watu Kandang merupakan situs peninggalan zaman Megalithikum, Para ahli arkeologi berpendapat Situs Watu Kandang berasal dari masa Megalitik Tua. 

Situs Watu Kandang berupa bangunan temu gelang yaitu sekelompok batu yang disusun dalam bentuk formasi temu gelang oleh penduduk sekitar di sebut watu kandang. Struktur batu temu gelang yang terdapat di Situs Watu Kandang ada be
berapa macam diantaranya berbentuk persegi panjang, oval dan tidak beraturan, ada yang berukuran besar dan kecil. Juga di temukan adanya menhir yaitu batu tegak yang didirikan sebagai lambang arwah nenek moyang, dan juga kursi batu atau tahta batu yaitu bangunan menyerupai kursi terdiri dari bagian sandaran dan alas yang disusun dari lempengan-lempengan batu. 

Bentuk Situs Watu Kandang
  • Punden Berundak yaitu berupa batu yang berdiri condong sehingga seperti punden berundak yang biasanya disembah sebagai nenek moyang mereka.
  • Menhir yaitu berupa batu besar yang berdiri tegak seperti tugu
  • Dolmen yaitu batu yang berbentuk seperti meja di tengah-tengah batu yang lainnya, di perkirakan sebagai tempat meletakkan sesaji untuk roh nenek moyang.
  • Lumbung Batu yaitu batu yang berbentuk besar  dan lebar, tengahnya berbentuk cekung dan dalam, diperkirakan tempat mengupasan kulit padi. 
  • Gerabah dengan ditemukannya berbagai manik-manik yang terbuat dari tanah liat
  • Kubur Batu yaitu tempat untuk meletakkan jenazah yang berbentuk persegi empat